Dijual Tanah di Yogyakarta, luas 4.500m persegi, strategis, 10 menit dari bandara Adisucipto, 5 menit dari Ambarukmo Plaza, timur Jogja Expo Center (JEC) masuk ke utara, pinngir jalan, truk bisa masuk. Berminat Hub: +628122699981
Bagiku angkringan bukanlah sekedar tempat mencari makan dan minum murah, angkringan adalah tempatku bersosialisasi dengan bermacam-macam orang, tempatku melepas penat dan lelah, tempatku berkeluh kesah dan di situlah ide-ide itu muncul.
Dengan segelas teh panas / es teh / susu jahe / kopi susu / or apa aja perpaduan teh, kopi, jahe, susu, jeruk, plus, gorengan, dan nasi, uenak tenan….
kalo aku angkringan paling top banget adalah “si sur”
tehnya kental, panas (”inget!!!!, panas bukan anget!!!!”), agak sepet, manisnya pas banget, anget di badan, pokoknya uenak tenan
angkringan itu sendiri cukup tersebar luas di seluruh bagian kota Yogya. mau cari di mana aja ada, cuman kualitas dan rasanya tentu beda-beda lahhh……
Kebetulan sekali ketika sudah lama saya tidak “tindak” pasar dan jajan makanan khas pasar, tadi pagi saya menyempatkan diri untuk berpetualang ke dalam pasar tradisional favourite saya. Di pasar itulah saya bertema dengan jajanan bernama CETHIL (cenil) dan jatuh hatilah saya. Dengan bekal Rp. 1000, - saya pinang si CETHIL (cenil) tersebut.
Cenil adalah sebuah makanan sederhana berbahan dasar tepung sagu dicampur dengan gula Jawa nan legit dan dipadukan dengan wangi daun pandan dan gurihnya parutan kelapa muda membuat semua orang di dunia ini pasti ingin mencicipinya.
Kalau ditanya kenapa kok namanya CETHIL (cenil) saya sendiri juga bingung, CETHIL dalam bahasa Jawa juga berarti pelit, kikir, tidak mau berbagi dengan yang lain. Secara morfologi dan topografinya makanan ini terasa kenyal, lembut, bentuknya memanjang tidak beraturan, dan sedikit lengket. Karena rasanya yang khas dan membikin ketagihan, bahkan orang kadang tidak mau berbagi makanan ini dengan orang lain, mungkin karena hal itulah makanan ini disebut CETHIL (cenil)
selain itu masih ada saudara dekat dengan Cethil yaitu Ongol-ongol. Mereka sama-sama berbalut kelapa muda sebagai pakaian wajibnya, namun bahan dasarnya berbeda jauh, Ongol-ongol terbuat dari singkong, gula pasir, agar2 dan santan.
Proses pembuatannya cukup memakan tenaga terutama dalam proses penghancuran ketela dengan proses pemarutan. Perpaduan semua bahan tersebut ke mudian dikukus dan hasilnya di guling-gulingkan di atas parutan kelapa sebagai pakaian wajibnya.
Dalam satu gigitan akan terasa gurih dan manis yang berpadu dalam sebaran kelapa muda, kadang orang nggak bakalan tahu kalo si Ongol ini terbuat dari ketela, karena enaknya rasa makanan ini……..
Cerita tentang Mangut Lele (nggeneng) ini dimulai ketika saya sedang berumur 5 tahun (sekarang 26). Seorang wanita berusia sekitar 50 tahunan berjalan dengan membawa bakul di belakang punggungnya. Terlihat letih dan lelah setelah berjalan kaki menempuh jarak kurang lebih 10km dari rumahnya di jalan parang tritis km 12 sebelah barat ISI (Institute Seni Indonesia) dan sampai di daerah gading. Wanita tersebut adalah penjual mangut lele dan gudeg basah yang sedianya akan dijual di seputaran alun-alun utara Yogyakarta.
Mangut lele merupakan dagangan utama dari mbah Marto nama wanita tersebut, mangut lele terbuat dari lele yang di sate dengan menggunakan batang daun kelapa kemudian diasapi dengan arang tempurung kelapa. Hasil dari pengasapan tersebut kemudian di masukkan ke dalam bumbu santan extra pedas di tambah dengan krecek, dan rasanya SUANGAT ENAK.
Sekarang mbah Marto tidak lagi berjualan keliling untuk menjajakan mangut lelenya. Beliau sekarang menetap di rumahnya desa Nggeneg di sebelah barat ISI Yogyakarta. pokoknya rugi kalo tidak mencoba makanan ini, dan selamat mencoba, dijamin bakalan kembali lagi………