«

»

Mar 11

Pegunungan Seribu di Gunungkidul : Layak Diperjuangkan Menjadi Warisan Budaya Dunia

Dari berbagai penelitian yang dilakukan kalangan ahli, wilayah Pegunungan Seribu, termasuk yang terletak di Kabupaten Gunungkidul, memiliki keunikan dan kekhasan di dunia, khususnya kekayaan

Wonosari, Kompas – Dari berbagai penelitian yang dilakukan kalangan ahli, wilayah Pegunungan Seribu, termasuk yang terletak di Kabupaten Gunungkidul, memiliki keunikan dan kekhasan di dunia, khususnya kekayaan berbagai bentuk goa dan juga dalam kaitan hunian manusia purba. Oleh karena itu, atas jasa kalangan ahli yang mampu menunjukkan kekhasan dan keunikannya, wilayah Pegunungan Seribu layak didukung untuk diusulkan secepatnya menjadi warisan budaya dunia.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Negara Kebudayaan dan Pariwisata I Gede Ardika ketika membuka kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya Gunungkidul di Desa Genjahan, Kecamatan Ponjong, Kabupaten Gunungkidul, Sabtu (6/9) malam. Kegiatan ini diselenggarakan atas kerja sama antara Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata dengan Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

“Oleh karena itu, keunikan dan kekhasan Pegunungan Seribu harus dilestarikan. Jangan sampai dirusak. Sebab, kondisi alam Pegunungan Seribu bukan hanya milik anak cucu kita, tetapi juga milik umat manusia,” kata Ardika.

Kegiatan ini dilaksanakan dilatarbelakangi kecenderungan ancaman terhadap pelestarian goa di wilayah Gunungkidul, terutama oleh aktivitas penambangan batu. Jika goa terancam, aset Arkeologi yang ada di dalam goa itu juga terancam. Sebab, beberapa penelitian menunjukkan, goa di wilayah Gunungkidul merupakan tempat hunian manusia purba.

Susur goa

Berbagai kegiatan dilaksanakan dalam upaya pemberdayaan masyarakat terhadap penyelamatan aset arkeologi dan kebudayaan manusia purba ini. Ada sinergi antara kesenian sebagai aset pariwisata Gunungkidul dan kegiatan kebudayaan (arkeologis) yang amat kuat. Kegiatan yang ditampilkan bukan hanya sarasehan dengan masyarakat Gunungkidul atau seminar yang membahas kondisi lingkungan budaya Gunungkidul, tetapi juga mementaskan festival Jatilan yang mampu menyedot ribuan masyarakat untuk menyaksikannya di obyek wisata Pantai Baron. Malam sebelumnya, dipentaskan wayang kulit yang berjudul Pendowo mBangun.

Pentas seni tayub, tarian gembira dalam tradisi seni Jawa, sempat mengundang pejabat dan kalangan ahli, seperti sejarawan Dr Anhar Gonggong ikut turun menari. Yang lebih menarik adalah kegiatan susur goa yang dilakukan wakil dari pelajar se-Kabupaten Gunungkidul.

Goa yang dikunjungi adalah Goa Lawa, sebuah goa yang indah dan unik, tetapi telah dirusak oleh ulah penambangan liar untuk diambil batu karsnya. Wakil pelajar itu oleh pemandu diberi penjelasan betapa parahnya kerusakan goa itu. Khusus bagian dasar goa telah porak-poranda akibat penambangan.

Kunjungan lain adalah ke Goa Tritis dan Goa Brahala, dua goa yang telah dibuktikan dengan penelitian diduga sebagai tempat hunian manusia purba. Di goa ini, baik penelitian yang dilakukan oleh Tim Arkeologi Nasional maupun Tim Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Arkeologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, telah menemukan kerangka manusia yang hidup sekitar 40.000 tahun lampau.

Anak cucu

Ardika menyatakan, kekayaan alam dan budaya di Pegunungan Seribu hakikatnya hanya titipan dari cucu kita di kemudian hari. Jadi, janganlah mengambil kekayaan itu habisan-habisan untuk diri kita sekarang. Mari kita sadar, jangan sampai anak cucu kita tidak bisa menikmatinya.

“Marilah kita jaga, jangan sampai rusak. Keunikan dan kekhasan Pegunungan Seribu harus kita pertahankan. Di dalam goa ini terkandung nilai untuk seluruh umat manusia di dunia,” tandasnya

Menurut Ardika, keberhasilan menjadikan Pegunungan Seribu sebagai warisan dunia ada makna besar yang terkandung, yaitu promosi ke dunia internasional sehingga masyarakat internasional bersedia datang menyaksikannya. Karena itu, komitmen memelihara dan menjaga goa purba itu harus lebih ditingkatkan. Dengan demikian, masyarakat Gunungkidul bisa menjadi wakil bangsa menunjukkan kepada dunia bahwa tanggung jawab menjaga warisan dunia itu benar- benar dimiliki. (top)

Sumber: http://www.kompas.com


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>