«

»

Apr 14

Upacara Pernikahan / Pengantin Tradisional Adat Jawa Yogyakarta

A. Nontoni

Nontoni adalah upacara untuk melihat calon pasangan yang akan dikawininya. Dimasa lalu orang yang akan nikah belum tentu kenal terhadap orang yang akan dinikahinya, bahkan terkadang belum pernah melihatnya, meskipun ada kemungkinan juga mereka sudah tahu dan mengenal atau pernah melihatnya.
Agar ada gambaran siapa jodohnya nanti maka diadakan tata cara nontoni. Biasanya tata cara ini diprakarsai pihak pria. Setelah orang tua si perjaka yang akan diperjodohkan telah mengirimkan penyelidikannya tentang keadaan si gadis yang akan diambil menantu. Penyelidikan itu dinamakan dom sumuruping banyu atau penyelidikan secara rahasia.
Setelah hasil nontoni ini memuaskan, dan siperjaka sanggup menerima pilihan orang tuanya, maka diadakan musyawarah diantara orang tua / pinisepuh si perjaka untuk menentukan tata cara lamaran…………..

B. Lamaran

Melamar artinya meminang, karena pada zaman dulu diantara pria dan wanita yang akan menikah terkadang masih belum saling mengenal, jadi hal ini orang tualah yang mencarikan jodoh dengan cara menanyakan kepada seseorang apakah puterinya sudah atau belum mempunyai calon suami. Dari sini bisa dirembug hari baik untuk menerima lamaran atas persetujuan bersama.
Upacara lamaran: Pada hari yang telah ditetapkan, datanglah utusan dari calon besan yaitu orang tua calon pengantin pria dengan membawa oleh-oleh. Pada zaman dulu yang lazim disebut Jodang ( tempat makanan dan lain sebagainya ) yang dipikul oleh empat orang pria. Makanan tersebut biasanya terbuat dari beras ketan antara lain : Jadah, wajik, rengginan dan sebagainya. Menurut naluri makanan tersebut mengandung makna sebagaimana sifat dari bahan baku ketan yang banyak glutennya sehingga lengket dan diharapkan kelak kedua pengantin dan antar besan tetap lengket (pliket,Jawa). Setelah lamaran diterima kemudian kedua belah pihak merundingkan hari baik untuk melaksanakan upacara peningsetan. Banyak keluarga Jawa masih melestarikan sistem pemilihan hari pasaran pancawara dalam menentukan hari baik untuk upacara peningsetan dan hari ijab pernikahan.

C. Peningsetan

Kata peningsetan adalah dari kata dasar singset (Jawa) yang berarti ikat, peningsetan jadi berarti pengikat. Peningsetan adalah suatu upacara penyerahan sesuatu sebagai pengikat dari orang tua pihak pengantin pria kepada pihak calon pengantin putri. Menurut tradisi peningset terdiri dari : Kain batik, bahan kebaya, semekan, perhiasan emas, uang yang lazim disebut tukon ( imbalan) disesuaikan kemampuan ekonominya, jodang yang berisi: jadah, wajik, rengginan, gula, teh, pisang raja satu tangkep, lauk pauk dan satu jenjang kelapa yang dipikul tersendiri, satu jodoh ayam hidup. Untuk menyambut kedatangan ini diiringi dengan gending Nala Ganjur . Biasanya penentuan hari baik pernikahan ditentukan bersama antara kedua pihak setelah upacara peningsetan.

D. Upacara Tarub

Tarub adalah hiasan janur kuning ( daun kelapa yang masih muda ) yang dipasang tepi tratag yang terbuat dari bleketepe ( anyaman daun kelapa yang hijau ). Pemasangan tarub biasanya dipasang saat bersamaan dengan memandikan calon pengantin ( siraman, Jawa ) yaitu satu hari sebelum pernikahan itu dilaksanakan.
Untuk perlengkapan tarub selain janur kuning masih ada lagi antara lain yang disebut dengan tuwuhan. Adapun macamnya :

  1. Dua batang pohon pisang raja yang buahnya tua/matang.
  2. Dua janjang kelapa gading ( cengkir gading, Jawa )
  3. Dua untai padi yang sudah tua.
  4. Dua batang pohon tebu wulung ( tebu hitam ) yang lurus.
  5. Daun beringin secukupnya.
  6. Daun dadap srep.

Tuwuhan dan gegodongan ini dipasang di kiri pintu gerbang satu unit dan dikanan pintu gerbang satu unit ( bila selesai pisang dan kelapa bisa diperebutkan pada anak-anak ) Selain pemasangan tarub diatas masih delengkapi dengan perlengkapan-perlengkapan sbb. (Ini merupakan petuah dan nasehat yang adi luhung, harapan serta do’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa ) yang dilambangkan melalui:

  1. Pisang raja dan pisang pulut yang berjumlah genap.
  2. Jajan pasar
  3. Nasi liwet yang dileri lauk serundeng.
  4. Kopi pahit, teh pahit, dan sebatang rokok.
  5. Roti tawar.
  6. Jadah bakar.
  7. Tempe keripik.
  8. Ketan, kolak, apem.
  9. Tumpeng gundul
  10. Nasi golong sejodo yang diberi lauk.
  11. Jeroan sapi, ento-ento, peyek gereh, gebing
  12. Golong lulut.
  13. Nasi gebuli
  14. Nasi punar
  15. Ayam 1 ekor
  16. Pisang pulut 1 lirang
  17. Pisang raja 1 lirang
  18. Buah-buahan + jajan pasar ditaruh yang tengah-tengahnya diberi tumpeng kecil.
  19. Daun sirih, kapur dan gambir
  20. Kembang telon (melati, kenanga dan kantil)
  21. Jenang merah, jenang putih, jenang baro-baro.
  22. Empon-empon, temulawak, temu giring, dlingo, bengle, kunir, kencur.
  23. Tampah(niru) kecil yang berisi beras 1 takir yang diatasnya 1 butir telor ayam mentah, uang logam, gula merah 1 tangkep, 1 butir kelapa.
  24. Empluk-empluk tanah liat berisi beras, kemiri gepak jendul, kluwak, pengilon, jungkat, suri, lenga sundul langit
  25. Ayam jantan hidup
  26. Tikar
  27. Kendi, damar jlupak (lampu dari tanah liat) dinyalakan
  28. Kepala/daging kerbau dan jeroan komplit
  29. Tempe mentah terbungkus daun dengan tali dari tangkai padi ( merang )
  30. Sayur pada mara
  31. Kolak kencana
  32. Nasi gebuli
  33. Pisang emas 1 lirang

Masih ada lagi petuah-petuah dan nasehat-nasehat yang dilambangkan melalui : Tumpeng kecil-kecil merah, putih,kuning, hitam, hijau, yang dilengkapi dengan buah-buahan, bunga telon, gocok mentah dan uang logam yang diwadahi diatas ancak yang ditaruh di:

  1. Area sumur
  2. Area memasak nasi
  3. Tempat membuat minum
  4. Tarub
  5. Untuk menebus kembarmayang ( kaum )
  6. Tempat penyiapan makanan yanh akan dihidangkan.
  7. Jembatan
  8. Prapatan.

E. Nyantri

Upacara nyantri adalah menitipkan calon pengantin pria kepada keluarga pengantin putri 1 sampai 2 hari sebelum pernikahan. Calon pengantin pria ini akan ditempat kan dirumsh saudara atau tetangga dekat. Upacara nyantri ini dimaksudkan untuk melancarkan jalannya upacara pernikahan, sehingga saat-saat upacara pernikahan dilangsungkan maka calon pengantin pria sudah siap dit3empat sehingga tidak merepotkan pihak keluarga pengantin putri.

F. Upacara Siraman

Siraman dari kata dasar siram ( Jawa ) yang berarti mandi. Yang dimaksud dengan siraman adalah memandikan calon pengantin yang mengandung arti membershkan diri agar menjadi suci dan murni. Bahan-bahan untuk upacara siraman :

  1. Kembang setaman secukupnya
  2. Lima macam konyoh panca warna ( penggosok badan yang terbuat dari beras kencur yang dikasih pewarna)
  3. Dua butir kelapa hijau yang tua yang masih ada sabutnya.
  4. Kendi atai klenting
  5. Tikar ukuran ½ meter persegi
  6. Mori putih ½ meter persegi
  7. Daun-daun : kluwih, koro, awar-awar, turi, dadap srep, alang-alang
  8. Dlingo bengle
  9. Lima macam bangun tulak ( kain putih yang ditepinnya diwarnai biru)
  10. Satu macam yuyu sekandang ( kain lurik tenun berwarna coklat ada garis-garis benang kuning)
  11. Satu macam pulo watu (kain lurik berwarna putih lorek hitam), 1 helai letrek ( kain kuning), 1 helai jinggo (kain merah).
  12. Sampo dari londo merang ( air dari merang yang dibakar didalam jembangan dari tanah liat kemudian saat merangnya habis terbakar segera apinya disiram air, air ini dinamakan air londo)
  13. Asem, santan kanil, 2meter persegi mori, 1 helai kain nogosari, 1 helai kain grompol, 1 helai kain semen, 1 helai kain sidomukti atau kain sidoasih
  14. Sabun dan handuk.

Saat akan melaksanakan siraman ada petuah-petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:

  1. Tumpeng robyong
  2. Tumpeng gundul
  3. Nasi asrep-asrepan
  4. Jajan pasar, pisang raja 1 sisir, pisang pulut 1 sisir, 7 macam jenang
  5. Empluk kecil ( wadah dari tanah liat) yang diisi bumbu dapur dan sedikit beras
  6. 1 butir telor ayam mentah
  7. Juplak diisi minyak kelapa
  8. 1 butir kelapa hijau tanpa sabut
  9. Gula jawa 1 tangkep
  10. 1 ekor ayam jantan

Untuk menjaga kesehatan calon pengantin supaya tidak kedinginan maka ditetapkan tujuh orang yang memandikan, tujuh sama dengan pitu ( Jawa ) yang berarti pitulung (Jawa) yang berarti pertolongan. Upacara siraman ini diakhiri oleh juru rias ( pemaes ) dengan memecah kendi dari tanah liat.

G. Midodareni

Midodareni berasal dari kata dasar widodari ( Jawa ) yang berarti bidadari yaitu putri dari sorga yang sangat cantik dan sangat harum baunya. Midodareni biasanya dilaksanakan antara jam 18.00 sampai dengan jam 24.00 ini disebut juga sebagai malam midodareni, calon penganten tidak boleh tidur.
Saat akan melaksanakan midodaren ada petuah-petuah dan nasehat serta doa-doa dan harapan yang di simbulkan dalam:

  1. Sepasang kembarmayang ( dipasang di kamar pengantin )
  2. Sepasang klemuk ( periuk ) yang diisi dengan bumbu pawon, biji-bijian, empon-empon dan dua helai bangun tulak untuk menutup klemuk tadi
  3. Sepasang kendi yang diisi air suci yang cucuknya ditutup dengan daun dadap srep ( tulang daun/ tangkai daun ), Mayang jambe (buah pinang), daun sirih yang dihias dengan kapur.
  4. Baki yang berisi potongan daun pandan, parutan kencur, laos, jeruk purut, minyak wangi, baki ini ditaruh dibawah tepat tidur supaya ruangan berbau wangi.

Adapun dengan selesainya midodareni saat jam 24.00 calon pengantin dan keluarganya bisa makan hidangan yang terdiri dari :

  1. Nasi gurih
  2. Sepasang ayam yang dimasak lembaran ( ingkung, Jawa )
  3. Sambel pecel, sambel pencok, lalapan
  4. Krecek
  5. Roti tawar, gula jawa
  6. Kopi pahit dan teh pahit
  7. Rujak degan
  8. Dengan lampu juplak minyak kelapa untuk penerangan ( jaman dulu)

H. Upacara Langkahan

Langkahan berasal dari kata dasar langkah (Jawa) yang berarti lompat, upacara langkahan disini dimaksudkan apabila pengantin menikah mendahului kakaknya yang belum nikah , maka sebelum akad nikah dimulai maka calon pengantin diwajibkan minta izin kepada kakak yang dilangkahi.

I. Upacara Ijab

Ijab atau ijab kabul adalah pengesahan pernihakan sesuai agama pasangan pengantin. Secara tradisi dalam upacara ini keluarga pengantin perempuan menyerahkan / menikahkan anaknya kepada pengantin pria, dan keluarga pengantin pria menerima pengantin wanita dan disertai dengan penyerahan emas kawin bagi pengantin perempuan. Upacara ijab qobul biasanya dipimpin oleh petugas dari kantor urusan agama sehingga syarat dan rukunnya ijab qobul akan syah menurut syariat agama dan disaksikan oleh pejabat pemerintah atau petugas catatan sipil yang akan mencatat pernikahan mereka di catatan pemerintah.

J. Upacara Panggih

Panggih ( Jawa ) berarti bertemu, setelah upacara akad nikah selesai baru upacara panggih bisa dilaksanaakan,. Pengantin pria kembali ketempat penantiannya, sedang pengantin putri kembali ke kamar pengantin. Setelah semuanya siap maka upacara panggih dapat segera dimulai.
Upacara Panggih dalam Perkawinan Adat Jawa merupakan puncak acara dari serangkaian upacara adat yang mendahuluinya. Rangkaian acara yang mewarnai upacara panggih meliputi :

  1. Penyerahan sanggan yang lazim disebut tebusan
  2. Keluarnya mempelai dari kamar pengantin yang didahului kembar mayang
  3. Lempar sirih
  4. Wijikan atau memecah telur
  5. Berjalan bergandengan jari kelingking menuju kepelaminan
  6. Kacar-kucur atau tampakaya
  7. Dahar klimah
  8. Penjemputaqn orangtua mempelai atau besan
  9. Sungkeman

Untuk melengkapi upacara panggih tersebut sesuai dengan busana gaya Yogyakarta dengan iringan gending Jawa:

  1. Gending Bindri untuk mengiringi kedatangan penantin pria
  2. Gending Ladrang Pengantin untuk mengiringi upacara panggih mulai dari balangan ( saling melempar ) sirih, wijik ( pengantin putri mencuci kaki pengantin pria ), pecah telor oleh pemaes.
  3. Gending Boyong/Gending Puspowarno untuk mengiringi tampa kayasungkeman

(kacar-kucur), lambang penyerahan nafkah dahar walimah. Setelah dahar walimah selesai, gending itu bunyinya dilemahkan untuk mengiringi datangnya sang besan dan dilanjutkan upacara

Setelah upacara panggih selesai dapat diiringi dengan gending Sriwidodo atau gending Sriwilujeng.
Pada waktu kirab diiringi gending : Gatibrongta, atau Gari padasih.

Sumber : WIKIPEDIA


13 comments

Skip to comment form

  1. egotofriend

    wah.. asik bener, solah-olah saya jadi lihat prosesi pengantennya

  2. egotofriend

    keren

  3. zuhuriah

    tulisan yang bagus bisa dijadikan pedoman penata dan perias penganten seperti saya di kota Tarakan, Kaltim. Untuk memperoleh kaset/CD gending pengirim prosesinya dimana dapat di pesan
    ?

  4. seno

    Dalem pingin pikantuk kursus singkat menabuh gamelan, nayogo saking CD, caranipun kados pundi wonten punopo boten??, menawi wonten nyuwun kabari dumateng HP.08128081510 (seno)

  5. aa irawan kuswardono

    Profesi saya penyanyi dan MC tetapi saat ini saya sedang kursus MC perkawinan adat Jawa, saya ingin membeli CD/kase tata upacara perkawinan adat Jawa lengkap termasuk Nyondro n gending2nya. Mohon bantuan bila ada yang punya infonya. terima kasih.
    Telp. 021 91995427

  6. dina

    nice info mas..:-)

  7. Ahmad Zuhdi

    saya minta penjelasan masalah upacara Tumplak Punjen, makasih

  8. primantoro

    berikut beberapa penjelasan tentang tumplak punjen, semoga berguna…

    Pengertian

    Dalam prosesi pernikahan adat Jawa untuk anak terakhir, terdapat satu acara sebagai penenda bahwa acara tesebut merupaakn menandai “mantu terakhir” yang sering disebut “Tumplak Punjen”.
    Tumplak dapat diartian sebagai tumpah (keluar semua) karena wadah ditumpahkan. Ditumplak artinya ditumpahkan, dikeluarkan semua (Poerwodarminta, 1939: 614).
    Punjen artinya dipanggul. Yang dipanggul adalah tanggung jawab, yakni tanggung jawab orangtua terhadap anak.
    Tumplak punjen artinya semua anak yang dipunji (menjadi tanggung jawab orangtua) telah dimantukan (ditumpak). Secara umum upacara Tumplak Punjen adalah dengan cara menumpahkan punjen (pundi – pundi) yang berisi peralatan tumplak punjen.

    Tujuan dan Makna Tumplak punjen

    1.Tasyakur (puji syukur) kepada Allah SWT, karena telah menuntaskan tanggung jawab untuk menikahkan putrinya
    2.Memberitahukan kepada kerabat bahwa tugas untuk menikahkan putrinya telah selesai
    3.Memberutahu kepada anak bahwa tugas orangtua telah selesai
    4.Tanda cinta kasih orangtua kepada anak
    5.Tanda bakti anak kepada orangtua (ditandai dengan sungkeman)
    6.Teladan agar suka bersedekah kepada sesama.
    7.Harapan dan doa orangtua untuk kebahagiaan anak cucu.

    Pelaksanaan

    Tumplak punjen dilakukan dalam rangkaian acara Panggih Penganten dengan urutan pelaksanaan sebagai berikut:
    1.Sambutan dari wakil putra putri yang ditujukan untuk bapak ibu
    2.Sungkeman, mulai dari anak sulung sampai ke anak bungsu (penganten) beserta pasangan masing – masing (menantu). Saat sungkem orang tua memberikan katung kecil yang berisi biji – bijian, beras kuning, empon – empon, bunga sritaman, dan uang logam. Boleh juga berupa hadiah yang lebih besar nilainya (misal : perhiasan). Kantung – kantung kecil tersebut diambil dari bokor kencana (bokor keemasan). Isi bokor selengkapnya adalah : kantung – kantung kecil, biji – bijian (beras kuning, kedele, jagung, empon – empon, kembang sritaman, dan uang. Isi bokor tersebut biasa juga disebut udhik – udhik.
    3.Menyebar isi bokor (udhik – udhik) yang dilakukan oleh orangtua dan semua anak cucu dan para tamu, boleh berebut. Udhik – udhik agar disisakan sedikit untuk tata laksana berikutnya.
    4.Sisa udhik-udhik ditumplak (ditumpahkan) di depan pelaminan.

    Disarikan dari : Suwarna Pringgawidagda, Tata Upacara dan Wicara Pengantin Gaya Yogjakarta, 2006, Penerbit Kanisius.

  9. darwati

    Wah lengkap sekali, selama ini saya hanya melihat saja, saya membutuhkan teks Catur Wedha yang dibacakan pada malam midodareni, kalau ada mohon dikirim, terima kasih.

  10. resep nasi kuning

    apa yang ada di postingan ini benar adanya, saya setuju dengan anda.

  11. satrio

    wah bagus bgt nich….bisa buat referensi…trims bgt

  12. subiharta

    bagus, memberi manfaat, ke depan bisa dikembangkan

    1. subiharta

      bagus, memberi manfaat, ke depan bisa dikembangkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>